Euforia Candu Selepas Ashar

Ada semacam candu yang susah untuk ditinggalkan ketika saya melewati masa SD hingga SMA. Ketika menikmati candu tersebut, saya dan kawan-kawan tanpa merasa khawatir akan sergapan pihak berwenang, bereuforia sepuasnya. Terjerembab, luka lecet, luka menganga, terkilir, lebam, atau apapun bentuk efek kontak fisik yang terjadi, euforia candu dengan sukses menutupi rasa nyeri dari efek-efek tersebut. Candu yang biasa kami nikmati selepas ashar, candu yang sesaat membuat kami lupa akan pekerjaan rumah, sulitnya suatu mata pelajaran di sekolah, atau ketika kami sedang patah hati.

 

Kenikmatan candu itu mulai menyapa saat saya berada di kelas 3 SD. Alat pertama kali yang kami gunakan untuk menikmati candu tersebut berupa benda bundar bermerek Molten pemberian ayah saya. Bola molten usang terbuat dari kulit, yang ketika hujan akan menyerap air dan menjadi berat. Beberapa kawan terkumpul, lapangan tanah di sekolah yang cukup rata, gawang yang tersusun dari tumpukan beberapa sandal jepit, tanpa alas kaki, menentukan tim dengan suit ataupun hompimpa, aktivitas candu massal dimulai.

Efek candu membuat kami berhalusinasi sepuasnya. Ada seorang kawan yang tangguh saat menjaga gawang mungkin berimajinasi bahwa dirinya adalah seorang Oliver Khan. Kawan yang jago menggocek mungkin berharap dia bisa meliuk selicin Youri Djorkaeff ataupun Zinedine Zidane. Atau kawan yang berkeinginan menjadi predator sebuas Ronaldo Ruiz Nazario. Dan imajinasi kami saat itu menyepakati bahwa seorang kawan saya yang bernama Agus adalah titisan David Beckham. Meskipun tidak memiliki tampang seperti Becks ataupun rambut Brylcreem, tapi kemampuannya melepas tendangan melengkung nan menghujam sudah meyakinkan kami untuk memanggilnya Agus Beckham.

Bermain tanpa taktik, hanya mengenal posisi penyerang, bek, dan kiper. Berpuas-puas berdiri di depan gawang lawan tanpa mengenal offside, kami menyebutnya “tahi larut”. Memasang kawan dengan postur terpendek dalam tim untuk menjadi penjaga gawang. Karena gawang sandal jepit tak bermistar, maka parameter bola yang mengarah ke atas tidak dianggap gol jika penjaga gawang sudah melompat dan tidak mampu menjangkau bola. Peraturan Konyol.

Liar, buas, penuh makian. Bahkan saya banyak mempelajari makian syahdu semacam kirik, celeng, asu, puki, dan sejenisnya, yang kelegaan pengucapannya mungkin selega mengucap Alhamdulillah, Subhanallah, atau Astaghfirullah bagi beberapa muslim yang taat. Pengalaman pertama kali mengenal rokok, menyaksikan pornografi melalui kartu remi, atau melihat tulang kering kawan yg patah menonjol untuk pertama kali, semua saya dapatkan dari aktivitas candu ini. Yang membuat kami berhenti menikmati candu sore itu hanyalah ketika adzan maghrib dan ketika ada kaca jendela sekolah yang pecah. Euforia berlebihan, menendang bola terlalu bersemangat, bola menghujam kaca jendela, kaca jendela pecah dalam hitungan milisekon. Tanpa pikir panjang, kami cari sandal masing-masing, kayuh sepeda sekencangnya atau kabur ke kebun belakang sekolah. Anda terlambat bereaksi? Selamat menikmati sore anda ditemani dengan omelan bapak penjaga sekolah.

Yang berubah memasuki masa SMP hanyalah lapangan, gawang, bola, dan tanda berhentinya aktivitas candu. Kami menggunakan lapangan semen sebagai arena, bola dengan kualitas yang sudah agak meningkat dan tiang ring basket yang lebarnya hanya selangkah kaki kami sebagai gawang. Bayangkan jika suatu tim sedang bertahan dan menumpuk pemain di depan gawang, hanya tendangan jarak jauh keras bertenaga yang dapat membongkar kerumunan tersebut. Apakah tendangan tersebut dimaksudkan untuk mencetak gol? Tidak, hanya untuk memberi tendangan “les privat” agar mereka menyingkir dari depan gawang. Tanda berhenti candu berkurang menjadi hanya sebatas adzan maghrib tanpa pernah sekalipun menikmati melodi pecahnya kaca jendela sekolah. Jarak lapangan dengan kaca jendela cukup jauh, letak kaca jendela yang cukup tinggi dan ukuran jendela yang kecil menjadi penyebab hilangnya melodi partitur “Kaca Jendela Pecah Pt.8”.

Memasuki masa SMA, arena yang kami gunakan berupa susunan papin block atau sesekali bermain di lapangan rumput. Intensitas makian yang makin berkurang dan makin terdengar halus ditelinga, perkembangan pemahaman taktik, dan lonceng tanda batas sore asrama yang menghentikan kenikmatan candu. Sekolah berasrama menandakan adanya kasta senior-junior, bayangkan saja apa yang akan terjadi jika pada saat berebut bola di lapangan dan tiba-tiba saya mengeluarkan makian ala preman ke arah senior. Kemungkinan yang akan terjadi adalah hukuman personal atau hukuman angkatan disertai dengan mencoba berbagai posisi hukuman ala militer dan omelan para senior. Kebanggaan mengalahkan para senior hanya mungkin terjadi ketika memasuki turnamen sepakbola antar angkatan pada bulan agustus. Tiga angkatan, tiga tim, dua hari, mengalahkan tim kakak-kakak senior disertai kontak fisik disengaja, orgasme maksimal.

Saya mulai jarang menikmati euforia candu tersebut begitu memasuki fasa perkuliahan. Walaupun ada fasilitas berupa lapangan futsal dan sesekali turnamen antar fakultas, tetap saja terasa berbeda. Bermain sepakbola didahului dengan memesan lapangan dan bermain di lapangan selebar 40×20 meter, menurut saya hal-hal tersebut menyebalkan. Saya sempat merasakan euforia candu kembali ketika saya melaksanakan tugas KKN (Kuliah Kerja Nyata) di daerah pedalaman Kutai Timur, di kampung Rantau Pulung. Selepas ashar, lapangan tanah yang luas, bersama remaja-remaja kampung yang berkumpul, pakaian bebas (bahkan ada yang mengenakan celana jins), saling melempar caci maki, minum dari dirigen bekas minyak goreng 5 liter, nikmat.

Saya membayangkan suatu kesempatan menikmati candu kembali bersama kawan-kawan atau orang yang baru saya kenal, melawan para pengurus PSSI atau para anggota DPR yang terhormat itu. Tanpa alas kaki, arena lapangan tanah di daerah yang jauh dari kota, gawang tumpukan sandal jepit, dan meneriakkan “ASU!” dengan lantang ketika salah seorang birokrat tersebut berhasil merebut bola dari kaki saya. Menyehatkan? Mungkin. Menyenangkan? Bisa saja. Membuat anda ketagihan? Mari kita rasakan bersama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s